Sat 14 Nov 2009
Karena aku males meng-update aplikasi wordpress di blog ini ( nulisnya juga males :D). Blog ku pindah lagi ke alamat lama : iwanbk.wordpress.com
Sat 14 Nov 2009
Karena aku males meng-update aplikasi wordpress di blog ini ( nulisnya juga males :D). Blog ku pindah lagi ke alamat lama : iwanbk.wordpress.com
Sat 9 Aug 2008
About 2 months ago, i have ported my kernel modules from 2.4 to kernel 2.6. But, it ended up in kernel 2.6.18. With kernel 2.6.19 and subsequent versions, the modules loading fail in mysterous way that i can’t understand.
Last week, i have upgraded my debian from stable release to testing release. Like usual, i compiled my modules with kernel 2.6.18, and what happened ? There is so many warnings and the compilation failed. The error was i included config.h, this file is deprecated in 2.6.18 and removed in 2.6.19 (Why the previous compilation against 2.6.19 succeed with no warning, i still don’t find the answer). Then, i discovered that my default gcc is point to gcc-4.3 , before, it pointed to gcc-3.3.
Then, i recompiled my modules and2.6.19 kernel with new compiler,and tried to load the modules. What happen ? The modules loaded successfully, but the module crash in function that just update by my friend and just tested with kernel 2.4. Oh, still long way to go.
Hmm….where is i can find about the *right* gcc version for some version of kernel ? Because in 2.6.19 kernel’s README, the gcc requirement is gcc-3.2, so my gcc-3.3 shouldn’t be a problem.
Oh, how amateur i am, have wasted my 2 precious months just because wrong gcc version.
Thu 21 Feb 2008
From xenomai-help mailing list [1].
Yeoh Chun Yeow
…..Is this the problem coming from the alloc_skb function call?
Gilles Chanteperdrix
Yes, you can not call alloc_skb from Xenomai domain, as you can not
call most Linux functions. Note that if you are porting a network driver, you should consider using rtnet.
Jan Kiszka
The point here is specifically that even if Linux itself provides
deterministic execution of your IRQ handler, it cannot guarantee that
there is always memory available for alloc_skb. That’s why RTnet uses
preallocated pools for precisely this scenario. But, to avoid potential
misunderstandings right from the start, it is _not_ intended as a
performance or latency “booster” for standard networking applications.
[2]
From those emails above:
Sat 4 Aug 2007
Artikel lama oleh Greg Kroah-Hartman, berisi penjelasan tentang coding style di kernel linux development
Proper Linux Kernel Coding Style.
Sat 23 Jun 2007
Peribahasa di atas sering digunakan oleh orang-orang untuk menyatakan bahwa selain dirinya, ada orang yang lebih pintar, ada orang yang lebih hebat, pokoknya… ada yang lain yang lebih darinya.
Kalo dipikir-pikir, peribahasa di atas menyiratkan kesombongan dari orang yang menggunakannya? Kenapa? Sebabnya adalah, orang yg menggunakannya menyamakan dirinya dengan langit. Langit itu di atas !!! Langit itu tinggi !!! Berarti…meskipun dia mengakui bahwa ada orang lain yang lebih darinya, tapi dia juga mengatakan bahwa dia itu ‘tinggi’.
Jadi, meskipun peribahasa ini sepertinya punya arti merendah, tapi sebenarnya juga menyiratkan kesombongan…
Lalu, gimana peribahasa yang bener ? Aku juga ga tau pasti. Tapi mungkin peribahasanya kira2 begini (tinggal diubah ke kata2 yang lebih indah).
“Di atas kepala ada rambut, di atas rambut ada atap, di atas atap ada genteng, di atas genteng ada troposfer, di atas troposfer ada stratosfer……………di atas…. ada langit, di atas langit masih ada langit”
![]()
Sat 23 Jun 2007
Ya..benar, tulisanku garing, amat sangat garing..Aku menyadari sepenuhnya.
Mungkin timbul pertanyaan. Kalo dah sadar, kok aku nulis blog terus sih?
Karena aku pengen belajar menulis yang bagus, yang ga garing.
Karena aku pengen jadi pengajar….!!! Pengen jadi guru…!!! Pengen jadi pendidik…!!!
Tulisan garing -> ngajarnya juga garing..
Tulisan ga garing -> (kuharap) ngajarnya akan menyenangkan.
Sat 23 Jun 2007
Malem minggu.jam 22.46.
Di kantor.sendirian.Kedinginan.Kesepian….(Garing ya !!!)
Mumet.Kernelnya linux crash lagi. Yang salah kerjaanku atau kerjaan temenku ya ?
Foto di atas diambil oleh temenku beberapa hari yang lalu…Kernelnya crash…
Pengen pulang ke kos. Tapi takut ada razia polisi lalu lintas (Hmm…hampir 4 taon aku naik motor tanpa punya SIM).
Mending tidur, sudah ada 4 sleeping bag menanti.
Ngantuk ngantuk ngantuk !!! Tidur tidur tidur !!! Biar besok punya tenaga tuk naik sepeda sampe dago pakar…Yuhuuuuu…..
Sat 23 Jun 2007
Alhamdulillah, setelah 3.5 tahun menjalani TA yg super ga jelas.

Gambar di atas adalah gambar kamarku….Beberapa jam setelah sidang TA.Belom diberesin…tapi laptop dari kantor + laptop si dardiri dah kukeluarin..
Waaa….
Sat 16 Jun 2007
Perhatian, tulisan singkat ini hanya cocok untuk pemula. Dari pemula untuk pemula :D.
Salah satu cara untuk debugging kernel adalah printk. Fungsi ini mirip printf dalam bahasa C, bedanya adalah printk berjalan di kernel space sedangkan printf berjalan di userspace. FYI, fungsi2 kernel space tidak bisa berjalan di user space , dan sebaliknya.
Sayang sekali, fungsi printk ini tidak bisa kita andalkan ketika kita pengen mendeteksi letak kesalahan code kita.Misal, code kita terdiri dari 25 langkah, tiap langkah kita kasih tanda dengan printk . Saat kernel crash, printk menampilkan pesan di layar untuk langkah ke 10. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa code kita crash di langkah ke 11. Karena fungsi printk ini tidak berjalan secara realtime, printk akan menuliskan string (yg pengen kita print) ke circular buffer, dan setelah melalui mekanisme tertentu (yg aku tidak paham 100%, hehhehehe) yg melibatkan daemon klogd, barulah string kita muncul di layar konsole yang aktif.
Jadi …hati-hatilah saat coding di kernel space :D, dan mari mencari teknik debugging yang lebih mumpuni. Kalo sudah putus asa, gabungan antara printk+return atau printk+break bisa jadi solusi sementara.
Sat 16 Jun 2007
Waktu : sabtu , tgl 9 Juni 2007.
Suasana hati : males, ga semangat.

Karena bingung mau ngerjain apa, aku putuskan tuk jalan-jalan naik sepeda kesayanganku ke arah dago bagian atas. (ga jelas mau kemana, pokoknya ke arah atas lah)….
Wow, tanjakan hotel jayakarta bisa kulewati dengan enteng…(padahal biasanya dah hampir sekarat). Sampe deket terminal dago kulihat ada biker tampang keren (pake jersey + helm ) sedang nggenjot sendirian. Kuikutin aja deh. Sampe tanjakan deket dago bengkok aku merasa kalo kecepatan si biker jadi menurun (muncul kesombongan dikit:wah, ternyata aku kuat). Tapi lama-lama kurasakan..meskipun jalan nanjak, kecepatan si biker tetep stabil. Aku jadi berpikir, mungkin inilah teknik nggenjot yang tepat dalam menghadapi tanjakan.
Sampe di tanjakan THR (Taman Hutan Raya) Juanda kecepatan si biker tetap stabil (meski ada penurunan sedikit). Aku yang sejak dago bengkok mengikuti iramanya nggenjotnya juga merasakan kecepatanku ikut stabil & ga terlalu capek. Sebagai informasi, sebelumnya aku baru 2 kali lewat tanjakan sebelum THR juanda ini, dan biasanya aku melewati tanjakan yg (sepertinya ) lebih dari 45 derajat ini dengan susah payah, peluh membanjir, nafas ngos-ngosan serasa paru2 mau pecah, jantung deg2-an ga karuan, & pas sampe atas dah kehabisan tenaga (halllah, berlebihan banget, tp bener lo). Tapi skarang…sampe atas pun aku masih segar…(suit2….peningkatan nih).
Akhirnya, sambil tetap bersepeda kita kenalan,ternyata biker itu dah tua, 55 tahun. wow. Namanya sama pula dengan namaku…..(nasib punya nama yg bagus). Dan si bapak bilang kalo dia mau ke dago bandrek yang menjadi salah satu pangkalan para biker di daerah dago. Wow….aku pun dengan smangat 45 bilang : “Saya ikut pak !!!”. Kita pun melanjutkan perjalanan, naik ke dago bandrek.
Sampe di suatu tempat, si bapak berhenti karena mau nyari barangnya yg kemaren terjatuh. Si bapak nyuruh aku melanjutkan perjalanan sambil berpesan :”kalo nanjak, nggenjotnya nyante aja mas. Usahakan tetap stabil. Tinggal setengah perjalanan”. Saat mendengar ‘tinggal setengah perjalanan’, aku langsung mikir:”klo diukur dari THR juanda, deket dong!”. Setelah sekian lama menggenjot (dengan tanjakan yg makin lama makin mengerikan), aku merasa dengan deskripsi ‘tinggal setengah perjalanan’ harusnya aku dah nyampe dari tadi. Aku langsung mikir:”si bapak bilang 1/2 perjalanan ngukurnya dari mana ya…, ampun dehhhh…”.
Akhirnya …dengan tekad membara aku tetap melanjutkan perjalanan dengan semboyan “Gunung kan kudaki, lautan kuseberangi” …hohoooohooooooo….. Setelah sekian lama, sampe juga aku di sebuah warung yang menurut deskripsi si bapak, ini adalah dago bandrek….Alhamdulillah,akhirnya sampe…. Capek luar biasa [aku juga capek nulis blog ini , apa sih rahasia biar bisa nulis ?]. Tapi seneng juga…Udara segar kawasan atas dago, pemandangan yang indah, seakan2 menghilangkan capekku. Banyak biker yang kumpul disitu,kira2 ada 15-20 orang.
Aku pun menuju ke warung dan ngambil pisang goreng, lalu duduk di kursi kayu depan warung tapi tiba2……..duh, pantatku sakit luar biasa….Baru kusadari kalo kakiku ga pegal, tapi pantatku super sakit.
Setelah ngobrol dengan seorang biker yang terlihat profesional, aku dikasih tau sedikit teknik saat nggenjot di tanjakan: Bungkukkan badan, sehingga wajah mendekat ke stang. Dan geser pantat sampe ke bagian depan sadel. OK deh mr biker, kapan2 kucoba teknikmu , thx abis !!!
Setelah kira2 15 menit aku duduk, ada seorang biker yg datang. Tampang tua !!! Janggutnya aja dah putih…wow ..keren…Subhanalloh, kuat sekali bapak ini (atau aku yg lemah ya…:D ). Si bapak tua pun sempat kufoto (meski dari kejauhan). [fotonya yang di atas itu tuh]
— bersambung klo ga males —